Roulette Chart_Best online casinos in Indonesia 2021_Indonesia Lottery Results_Bet365

  • 时间:
  • 浏览:0

JTTexas Hold'em Rules Sizeexas Hold'eTexas Hold'em Rules Sizem Rules Sizeadi guru itu rasanTexas Hold'em Rules Sizeya Texas Hold'em Rules Sizekayak permen. Walau tak melulu manis, toh permen itu tetap lahap kita habiskan.

Saat aku kecil dulu, tak pernah terpikir sekalipun untuk menjadi seorang guru. Seperti kebanyakan anak di sekolah, aku menulis kata ‘dokter’ di kolom cita-cita saat mengisi biodata di binder teman-teman SD-ku. Mungkin karena profesi dokter terdengar cerdas, keren, dan mentereng. Namun pada akhirnya, takdirlah yang akhirnya membawaku mengabdi menjadi guru. Profesi yang mungkin tak banyak dilirik anak-anak muda seusiaku, namun mampu mengubah hidupku.

Ya, menjadi pengajar adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Belajar menjadi lebih dewasa, lebih memahami. Lebih bersimpati dan mengingatkan diri bahwa anak kecil juga punya emosi dan layaknya orang dewasa, bisa sakit hati.

Suara kecil salah satu muridku menyapa. Aku memalingkan kepala dari tumpukan-tumpukan kertas ulangan di depanku, menatap wajahnya yang belia dan penuh tanya. Kuanggukkan kepala.

Aduh, aku harus bilang apa? Kelas V adalah jatah guru-guru yang lebih senior. Aku hanya ditugaskan di kelas III dan IV saja.

Ya, semoga saja.

Bersama mereka, aku berjuang. Memahat esok yang lebih terang. Memastikan ilmu tersampaikan dengan setitik keceriaan. Sebelumnya memang tak pernah terbayangkan. Namun sekarang, menjadi guru adalah salah satu hal dalam hidup yang selalu membuat syukurku terapal.

“Berapa 3 x 4, Bud?”

Kenaikan kelas adalah saat untukku melepas mereka, murid-murid yang kusayangi dengan setulus-tulusnya. Guru yang baik selalu tahu batas. Di kelas selanjutnya, saatnya mereka ditangani guru-guru lain yang lebih pantas.

“… … 9 … eh, 12!”

Ada banyak cerita yang selama ini aku dulang dengan menjadi guru. Tak hanya tentang menghadapi murid yang tak mudah mengerti pelajaran atau gemar mengobrol di kelas. Tak hanya tentang melerai murid yang bertengkar dan mulai pukul-pukulan. Bukan juga hanya soal menilai jawaban-jawaban murid dengan pulpen merah dan meng-input nilai-nilainya di dalam sistem sekolah.

Namun ini semua aku jadikan sebagai pembelajaran. Sebagai orang yang bertugas membuat murid-muridnya bersemangat menyambut masa depan, tak boleh ada kata “Aku menyerah!” dari pendidik teladan. Memang jadi guru tak selamanya menyenangkan — pasti ada pil pahit yang harus kutelan. Namun aku sadar, pengalaman tak mengenakkan itulah yang menjadikanku guru lebih baik di masa depan. Yang lebih bersabar dan dewasa dalam mengajar.

Tidak hanya aku yang pernah disemprot orangtua atau guru senior, kok. Hampir semua guru muda pernah mengalaminya. Dan itu tidak apa-apa