Reliable sports betting platform_Baccarat game_American Lottery Online

  • 时间:
  • 浏览:0

PertBookmaker CollectBookmaker Collectionionanyaan ini sudah beberapa kaBookmaker Collectionli lewat dan menyanBookmaker Collectiongkut di kepalamu. Apalagi saat ada teman atau kerabat yang bertanya “Kapan nikah?”, atau lihat teman yang rata-rata sudah berkeluarga, rasanya kamu ingin segera minta dilamar oleh dia. Tapi namanya juga cewek, ada rasa sungkan sekaligus gengsi jika bertanya langsung persoalan seperti ini. Paling banter kamu cuma bisa memberi kode-kode saja.

Coba deh kamu ingat lagi, dulu sewaktu kecil kepada ibu lah dirimu bertanya segala macam hal yang asing di telinga dan pikiranmu. Kepada ibu juga lah kamu selalu meminta bantuan untuk mengerjakan sesuatu yang belum kamu pahami dan bisa lakukan. Iya sosok ibu memang jadi sekolah pertama untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, kamu sebagai calon ibu sedari sekarang juga perlu membenahi keterampilan ataupun pengetahuan yang dirimu.

Jadi sebelum kamu terlanjur berumah tangga dan menjadi ibu, tapi masih belum bisa bersikap atau berprilaku lebih baik. Bukankah momen penantian lamaran dari dia ini bisa kamu manfaatkan untuk memperbaikinya?

Kamu perlu tahu bagaimana cara menjelaskan sesuatu yang baik dan mudah dimengerti oleh anak. Kamu harus paham apa saja yang dibutuhkan anakmu dalam masa pertumbuhan di setiap tahunnya. Paling tidak kamu punya dasar yang bisa jadi bekal untuk mengajarkan anak-anakmu nantinya.

Cewek memang punya emosi yang lebih labil dari pada cowok. Apalagi saat PMS datang, sedih, senang dan marah bisa berganti hanya dalam hitungan jam bahkan detik. Memang emosi pun sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari diri manusia. Tapi harusnya sudah sejak dini kamu paham, jika kelak menjadi istri sekaligus ibu mengharuskanmu lebih sabar dan tabah. Kamu tak bisa seperti sekarang yang ngambek atau marah karena hal sepele seperti saat cowokmu telat membalas pesan.

Kenapa sih aku belum dilamar juga? Padahal pacarannya udah lama.

Tak juga dilamar bukan berarti cowokmu ini tak sayang dan serius denganmu. Bisa jadi dia memang sengaja menunda lamaran karena memang ingin melihat seberapa jauh usahamu untuk membenahi diri. Dia ingin bukan hanya dirinya yang siap menjalani bahterah rumah tangga, tapi juga kamu sebagai patner hidupnya. Diam-diam dia juga berharap kamu bisa jadi pasangan yang mengimbangi dirinya. Mengimbangi dalam artian bisa memposisikan diri baik kepadanya atau lingkungan di sekitar kalian.

Memperbaiki dan menjaga penampilan untuk pasangan memang perlu. Tapi percuma saja kalau kamu masih suka nyinyir atau membicarakan orang lain, masih suka bersikap sesukamu sendiri, bahkan memandang orang dengan sebelah mata. Sementara kelak kamu akan jadi panutan untuk anak-anakmu. Apa iya kamu ingin anakmu bersikap buruk seperti melawan atau mengacuhkanmu? Kamu pun perlu tahu, perilaku dan sikapmu ini juga yang jadi patokan dewasa atau tidaknya dirimu.

Tapi sayangnya, kode yang kamu lontarkan tak selalu bisa dipahami oleh dia. Buatmu mau tak mau harus menunggu lagi. Tapi alih-alih hanya menunggu tanpa berbuat sesuatu atau usaha. Kenapa tak coba menilai dirimu sendiri, lihat bagian mana yang kurang dan perlu dibenahi. Sebab kadang kesiapan dirimu lah yang menentukan kapan lamaran itu datang.

Harusnya ada atau tidak ada pasangan kamu tetap perlu mandiri. Kamu perlu memilah mana yang bisa dikerjakan sendiri, dengan mana yang memang perlu bantuan seseorang untuk menyelesaikannya. Sebab kelak menjadi istri sekaligus ibu mengharuskanmu bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Mengingat kamu tak bisa selalu mengandalkan suamimu yang juga punya kesibukan. Bukankah membangun rumah tangga butuh kerja sama?

Jadi sekarang kamu sudah bisa bangun pagi dan mau mengerjakan pekerjaan rumah atau belum?

Adanya pasangan memang untuk diajak berbagi banyak hal. Tapi berbagi di sini bukan berarti sebentar-sebentar meminta bantuan. Masa iya sekadar pergi kerja saja harus selalu diantar. Padahal sebelum ada pasangan biasanya mampu untuk pergi atau melakukan apa-apa sendiri.

Rasanya kalimat itu sudah tak asing lagi untukmu. Bukan tanpa alasan juga orang tuamu mengatakan itu. Selain keharusan bangun pagi, kamu pun pasti sudah sering dinasehati untuk tak malas mengerjakan pekerjaan rumah. Paling tidak kamu bisa mencuci pakaianmu sendiri, menyapu dan mengepel lantai, atau masak. Karena nantinya semua urusan rumah memang akan ada di dalam tanganmu. Sekalipun kamu punya asisten rumah tangga, tetap saja kamu perlu turun tangan untuk memastikan semuanya baik untuk keluarga kecilmu.

Paling tidak mulai saat ini kamu perlahan belajar mengatur emosi. Saat kesal seperti apa usahakan tak langsung marah-marah. Mungkin kamu bisa menenangkan kekesalanmu dengan melakukan kegiatan lain. Bisa juga dengan mengungkapkan segala uneg-uneg itu, tapi secara tenang dan lebih baik. Sebab kelak kamu tak bisa marah-marah atau seenaknya ngambek di hadapan anakmu.

Anak gadis kok bangunnya siang.

Jadi urusan cepat atau tidaknya kamu menikah ada di tanganmu sendiri juga. Kesiapan dirimu jadi salah satu faktor yang tak bisa disepelekan. Siapa tahu kalau kamu giat berbenah diri, bulan depan, atau beberapa bulan lagi dia akan melamarmu.