Baccarat Live Entertainment_21 o'clock online_Baccarat winning skills_Gambling Handicap_Ranking of European Bookmakers

  • 时间:
  • 浏览:0

Oh Online BaccaratiyOnline Baccarata, kamu tentu masih ingat kisah kita Online Baccaratdulu. Dan tulisan ini akan sejenak memOnline Baccaratbawa kita kembali ke masa lalu. Tapi maaf, aku bukan ingin merutuki keadaan atau berharap cerita kita bisa diulang. Surat ini adalah peringatan, agar kamu tak seenaknya bermain-main dengan perasaan.

Kini aku bahagia hidup sendiri saja, tanpa pasangan yang ada di sisi sehari-harinya. Bukan berarti trauma atau tak percaya cinta, aku hanya lebih berhati-hati agar tak jatuh ke lubang yang sama. Bagiku, kamu hanyalah sepenggal kisah pahit di masa lalu. Cukup sekali kamu mampir di hidupku, tapi jangan berharap untuk datang dan kembali mempermainkan perasaanku.

Perlahan, kesalahan demi kesalahan mulai bisa disadari. Mungkin, memang aku yang tak bisa mengendalikan diri. Menempatkanmu sebagai belahan hati, aku merasa tak butuh apa-apa lagi. Aku lupa bahwa perasaan adalah hal yang paling tak pasti di dunia ini. Aku lupa bahwa kamu boleh saja bilang cinta hari ini, lalu esok bilang benci.

Bagiku, rencana-rencana itu terlalu indah jika tak diwujudkan. Pantas saja setelah kamu pergi, hidupku jadi berantakan. Aku tak tahu kemana kaki-kakiku harus melangkah. Tanpa kamu, hidupku rasa-rasanya sudah kehilangan arah.

“Aku berharap kita bisa bertemu. Minum teh berdua dan mulai berdamai dengan masa lalu. Aku merindukanmu…”

aku tak tahu kemana harus pulang

Susah payah berdamai dengan diri sendiri, membaca pesan yang kamu tinggalkan hanya membuatku geli. Kita bertemu? Membicarakan masa lalu? Rindu? Hey! Setelah kamu meninggalkanku tanpa alasan, pertemuan denganmu adalah yang paling tak kuharapkan. Kamu yang memilih pergi, maka selamanya jangan pernah berharap untuk kembali.

Di dunia ini tak ada wanita yang mau diperlakukan seenaknya. Setelah dihempaskan begitu saja, mustahil untuk kembali menjalani hubungan seperti sebelumnya. Aku mungkin sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti kita bisa kembali seperti dulu. Terima kasih. Dan mulai hari ini semoga kamu tak lagi mengganggu hidupku.

Kubayangkan kamu akan terkejut membaca suratku ini. Kamu pasti sudah paham, aku bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Tanpa sebuah alasan yang kuat, mustahil aku mau susah payah menulis surat.

“Bagiku kamu adalah rumah. Tempatku berkeluh kesah, tentang segala remeh temeh dunia yang semakin membuat jengah…”

Kita pernah jadi dua orang paling bahagia di dunia. Aku yang dulu membuatmu tergila-gila, dan kamu yang menjadikan hidupku lebih berwarna. Kita bahkan sering bicara tentang masa depan, pernikahan, hingga soal menghabiskan masa tua bersama di sebuah rumah di pedesaan.

Pilihan selalu datang sepaket dengan konsekuensinya. Kamu pun cukup dewasa untuk bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Jika dulu kamu memilih pergi, kuharap kamu punya alasan kuat yang memang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Dan sebelum memohon untuk kembali, seharusnya kamu berpikir lebih dari seribu kali.

“Dulu, kamu adalah harapan yang aku semoga-kan. Kamu adalah doa yang kurapal di sepertiga malam, dan ku-amin-kan berulang-ulang…”

Kamu pernah jadi teman yang paling menyenangkan. Kamu rekan yang selalu bisa diandalkan. Bersamamu, aku menemukan apa itu kebahagiaan. Setelah sebuah penyataan dan pertanyaan yang terdengar tulus keluar dari mulutmu, aku sepakat untuk merencanakan masa depan bersamamu.

Sayangnya, harapan-harapan indah itu hanya ada di dalam kepalaku saja. Kamu justru memilih pergi, tanpa aku tahu apa yang jadi alasannya. Dan setelah kepergianmu, hidup rasanya tak bisa berjalan baik-baik saja. Kamu hebat karena berhasil meninggalkan luka hati yang sakitnya luar biasa.

Dear mantan, apa kabar?

Meski pernah limbung lantaran ditinggalkan, toh sampai hari ini aku masih bisa bertahan. Mati-matian berusaha kembali menata hidup, aku sadar masih banyak hal yang bisa diperjuangkan. Pendidikan, pekerjaan, keluarga, teman-teman, dan bukan kamu pastinya.